Sabtu, 14 November 2015

                               
                                  EveryDay Is Beautiful
                                  Karya : Ashadelfath Abdul Haris

EDISI 4  

                                                             Hari Kesialan

    " Sayang , ayo bangun! memang kamu tidak akan sekolah?" tanya ibu Hamidah
    " Tidak , Aina tidak mau sekolah," keluh Aina.
    " Kamu kenapa? Sakit?" tanya ibu Hamidah sambil memegang dahi Aina dengan tangan kanannya
    " Aina , badan kamu kok panas?" kata ibu Hamidah
    " Tidak tahu,bu . dari tadi malam , Aina lemes banget," keluh Aina
    " Ya sudah , kamu jangan masuk sekolah dulu hari ini . nanti Pak Madi yang memberi tahu gurumu. sekarang , kamu ke dokter ya!" kata Ibu Hamidah.
Ibu Hamidah pun membawa Aina ke Rumah Sakit Harapan Internasional
    " bu , kapan giliran kita masuk?" tanya Aina
    " itu sudah nomer 13 , setelah itu kita , sabar ya!" kata Ibu Hamidah
Akhirnya , Aina pun diperiksa oleh Dokter Ahmad.........
    " Dok , gimana dengan Anak saya?" tanya ibu Hamidah cemas
    " Anak itu terkena Tifus," jawab dokter Ahmad
    " Tifus? jadi , anak saya harus dirawat , Dok?" tanya ibu Hamidah
    " iya , mungkin seminggu , Bu," kata Dokter Ahmad
    " Seminggu ? lama sekali dok," kata ibu Hamidah
    " Bagaimana Aina bisa datang ke produser itu , bu?" Tanya Aina cemas
    " sudah , lihat saja nanti . sekarang , kamu sama suster dulu ya! ibu mau mengambil baju kamu dulu," kata ibu Hamidah
    " Iya......," keluh Aina

Aina yang sudah dipasangi Infus ditangan kirinya , tampak termenung memikirkan cara untuk bisa menemui produser itu. beberapa menit kemudian , Ibu Hamidah datang dengan membawa tas besar yang berisi baju-baju Aina untuk seminggu kedepan.
    " Bu , bagaimana Aina bisa pergi ke produser itu?" tanya Aina cemas
    " kamu berdo'a saja pada Allah agar cepat sembuh sebelum hari minggu nanti," kata ibu Hamidah.
Mala ini adalah malam pertama Aina tidur dirumah sakit , di ruang VIP kamar 144. Aina sangat sedih sekali. Ibu Hamidah tampak menelepon Pak Samad lewat Handphone.
    " Assalamualaikum, Ayah." ucap ibu Hamidah
    " Wa'alaikum salam, Bu. Ada apa?" tanya Pak Samad.
    " Aina masuk rumah sakit karna penyakit Tifus," lapor Ibu Hamidah
    " Oh , Ya ?? Ya sudah , besok ayah kesana . sekarang ayah sedang lembur dan menginap dikantor," kata Pak Samad.
Seminggu berlaludengan cepatnya. sabtu besok, Aina sudah boleh pulang dari rumah sakit.
    " Bu, besok Aina pulang,ya?" tanya Aina
    " iya, kamu sudah seminggu disini dan sudah sehat," jawab Ibu Hamidah
    " siapa yang menjemput?" tanya Aina
    " Ayah," jawab Ibu Hamidah
    " Horee.........!" Seru Aina

Hari minggu yang ditunggu pun tiba......
    " Oh ,iya.....hari ini kan , harus datang ke produser penyanyi cilik," gumam Aina.
    " Buuu......hari ini kan aku harus pergi ke produser penyanyi cilik itu!"
    " kamu tidak istirahat?" tanya Ibu Hamidah
    " kan , masih ada waktu 2 jam lagi," jawab Aina
    " ya sudah," kata Ibu Hamidah
Dua jam berlalu tanpa terasa, Aina pun pergi untuk menemui produser penyanyi cilik itu.
    " Bu, Aina berangkat dulu ya.....Assalamualaikum," kata Aina
    " Wa'alaikum salam," balas Ibu Hamidah.
Aina berangkat dengan diantar oleh Pak Madi. Pak Madi mengendarai mobil dengan cepat. sesampainya ditempat produser itu, Aina langsung memberikan kartu nama produser itu kepada petugas informasi.
    " Permisi Mbak, Ruangan ini dimana ya? saya sudah punya janji dengan bapak ini," kata Aina kepada seorang perempuan bernama Kirna.
    " sebentar , ya dik.....mbak telepon dulu," kata mabk Kirna.
    " Halo , Pak Ahsir.....ada yang mau ketemu dengan bapak. seorang anak kecil. katanya, sudah ada janji dengan bapak," kata Mbak Kirna.
    " Oh.....suruh dia masuk!" kata produser yang ternyata bernama Pak Ahsir itu.
Mbak Kirna pun mengantar Aina ke ruangan Pak Ahsir.
    " Ini ruangannya dik," kata Mbak Kirna sambil menunjuk ruangan yang tertulis        
"RUANGAN PRODUSER".
    " oh , iya mbak .....makasih ya!" kata Aina.
Aina mengetuk pintu  ruangan itu ........
    " iya , silahkan masuk!" kata Pak Ahsir.
Aina memasuki ruangan Pak Ahsir dengan gugup karena tidak ada yang menemaninya. Pak Ahsir menerima Aina dengan ramah sampai-sampai, Aina merasa bahwa dia sudah kenal dekat dengan Pak Ahsir.
    " Sekarang , kamu masuk keruangan ini. disana, kamu akan diajarkan dengan Ibu Jibaidah yang akan mengajarimu sampai kamu bener-bener siap untuk jadi penyanyi cilik.," kata Pak Ahsir sambil memberikan kertas yang berisi pesan & nomor ruangan , yaitu ruangan 15 lantai 2.
    " Oh , baiklah. saya akan kesana. terima kasih , pak!" kata Aina. Aina pun berjalan menuju ruangan yang dimaksud.
    " Permisi," ucap Aina.
    " iya , masuk saja!" balas Ibu Jubaidah.
Aina melihat seorang wanita paruh baya sedang duduk dibangku merah. disitu juga, ada anak-anak yang sebaya dengan Aina. mereka tampak sedang mencatat tulisan yang ada di papan tulis. untung saja, Aina membawa buku dan alat tulis sehingga ia tidak perlu repot meminjam alat-alat itu kepada orang lain.
    " kamu anak yang diundang oleh Pak Ahsir itu , kan?" tanya Ibu Jubaidah
    " iya," jawab Aina
    " Anak-anak, kita kedatangan teman baru, Aina," kata Ibu Jubaidah.
    " HAAAH! Aina!" kata salah seorang anak disitu. ternyata dia adalah Mawar, si Trouble Maker disekolah Aina.
    " Mawar, kamu kenapa?" tanya ibu Jubaidah.
    " Tidak apa-apa bu," jawab Mawar.
Aina juga kaget saat melihat Mawar. dia duduk disebelah Mawar yang terlihat begitu sinis kepadanya. Aina merasa bingung dengan sikap Mawar yang sini itu.
    " Eh , ngapain disini? Enggak diundang juga!" kata Mawar sinis
    " Enggak , kok , aku diundang! buktinya tadi, Ibu Jubaidah bilang gitu," jawab Aina.
    " Kamu Berani, ya!" bentak Mawar perlahan.
    " Berani! aku cuma takut sama Allah saja!" kata Aina.
    " Sok Alim!" balas Mawar
    " Ya, sudah kalau tidak percaya," kata Aina.
    " ku tunggu besok di sekolah kalau kamu berani!" kata Mawar lagi.
    " Oke.......siapa takut?" balas Aina.
Sebetulnya, Aina tidak mau mengikuti tantangan Mawar. Tapi, Aina sangat kesal dengan sikap Mawar. lagi pula, dia yakin bahwa Allah akan selalu menjaganya dimanapun dia berada.


Bersambung..............!!!

NB : Saya Minta Maaf karena terlambat memposting Cerpen ini , karena alasan Kesibukan yang tak bisa ditunda. sekali lagi mohon Maaf......

Tidak ada komentar:

Posting Komentar